MAU DI BAYAR DAFTAR DISINI

CARI DAN KLIK DISINI

Memuat...

MyCartopia.com Click here to get one

Jumat, 17 Juli 2009


بسم الله الرحمن الرحيم



NAJIS : Mudah Dijumpai Jarang Dikenali

Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq al-Atsary

Pengetahuan tentang najis sangat penting bagi seorang muslim karena berkaitan erat dengan ibadah. Jangan sampai karena ketidaktahuannya, benda yang sebenarnya hanya kotoran biasa dianggap najis dan sebaliknya menganggap remeh benda-benda yang dianggap najis oleh syariat.

Najis merupakan hal yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dan harus diperhatikan keberadaannya khususnya oleh seorang muslim karena berkaitan dengan ibadahnya kepada Allah Subhanahu wa ta`ala. Contoh yang paling mudah, ketika seseorang hendak menegakkan shalat, ia harus memperhatikan kesucian diri dan tempat shalatnya dari hadats maupun najis.

Namun sangat disayangkan, berapa banyak kaum muslimin yang belum mengetahui dengan benar masalah najis ini – walaupun sebenarnya permasalahan ini telah banyak dibahas oleh para ulama, baik dari sisi pengertian maupun penjelasan macam-macamnya secara rinci. Terkadang sesuatu yang najis disangka sebagai sesuatu yang bukan najis. Pada kali yang lain, sesuatu yang sebetulnya tidak najis berusaha dihindari karena disangka najis. Keadaan ini adalah kenyataan pahit yang kita dapati dalam kehidupan kaum muslimin.

Agama kita yang sempurna telah menjelaskan dengan lengkap dan rinci tentang najis ini. Para ulama telah menerangkan bahwa najis adalah kotoran yang wajib dijauhi oleh seorang muslim dan harus dibersihkan apabila mengenai sesuatu. Di antara macam-macam najis tersebut ada yang disepakati oleh para ulama bahwa perkara itu adalah najis, dan ada pula yang diperselisihkan tentang kenajisannya, apakah hal itu termasuk sesuatu yang najis atau bukan. Untuk itu dengan izin Allah ta`ala, kita akan mengupasnya satu per satu.

Kali ini kami akan menjelaskan terlebih dahulu hal-hal yang disepakati oleh para ulama sebagai najis sepanjang pengetahuan kami dengan ilmu yang kami miliki.



1. Kotoran (tahi) dan kencing manusia

Najisnya kotoran manusia diisyaratkan dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat yang mulia, Abu Sa’id al-Khudri radliyallahu‘anhu. Beliau menceritakan bahwasanya Rasulullah ‘alaihish Shalatu Wasallam pernah shalat bersama para shahabatnya dalam keadaan mengenakan sandal namun tiba-tiba beliau melepas sandalnya dan meletakkannya di sebelah kiri beliau dan perbuatan ini diikuti oleh para shahabat. Ketika selesai shalat beliau mempertanyakan perbuatan para shahabatnya tersebut dan memberitahukan alasan beliau melepas sandal karena Jibril mengabarkan bahwa di sandal beliau ada kotoran dan beliau bersabda (yang artinya): "Apabila salah seorang dari kalian datang ke masjid, hendaklah dia membalikkan dan melihat sandalnya. Apabila ia melihat ada kotoran (tahi) padanya, hendaknya digosokkan ke tanah kemudian dipakai untuk shalat.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan berkata Syaikh Muqbil rahimahullah tentang hadits ini dalam karya beliau al-Jami’ush Shahih Mimma Laysa fish Shahihain juz 1, hal. 526: Ini adalah hadits shahih, rijalnya (para periwayatnya) adalah rijal Shahih al-Bukhari)


Adapun najisnya kencing manusia dijelaskan dalam hadits Ibnu Abbas radliyallahu‘anhuma yang diriwayatkan di dalam Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim) tentang dua orang penghuni kubur yang diazab. Dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam (yang artinya): "Adapun salah satu dari keduanya tidak membersihkan dirinya dari kencingnya." (HR. Bukhari no. 216, 218, 1361, 1378 dan Muslim no. 292)


Masalah kenajisan kotoran dan kencing manusia ini –banyak ataupun sedikit- disepakati oleh ulama. Adapun Abu Hanifah dalam masalah kencing beliau berpendapat, jika didapati kencing setitik jarum, maka ini tidak memudharatkan. Namun sebagaimana diterangkan di atas, kencing manusia –baik banyak ataupun sedikit – adalah najis, dengan dalil yang jelas dan terang, serta merupakan kesepakatan ulama sebagaimana disebutkan Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Muslim. Sedangkan apa yang datang dari Abu Hanifah adalah pendapat yang tertolak.


Lain halnya dengan kencing anak kecil laki-laki yang masih menyusu dan belum makan makanan tambahan kecuali kurma untuk tahnik (tahnik adalah mengunyah sesuatu -dalam hal ini kurma- sampai lumat kemudian dimasukkan/digosok-gosokkan ke langit-langit mulut bayi yang baru lahir) dan madu untuk pengobatan. Kebanyakan para ibu mengatakan bahwa itu bukan najis sehingga mereka bermudah-mudah dalam hal ini.


Walaupun memang di sana ada perselisihan ulama dalam masalah najisnya kencing anak laki-laki yang dalam keadaan seperti ini, akan tetapi pendapat yang kuat menyatakan bahwa kencing anak laki-laki yang masih menyusu dan belum makan makanan tambahan itu najis, sebagaimana dinyatakan Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarah Muslim, namun najisnya ringan. Dalil keringanannya diisyaratkan dengan ringannya cara membersihkannya seperti dalam hadits Ummu Qais bintu Mihshan yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (no. 223) dan Imam Muslim (no.287): Ummu Qais bintu Mihshan al-Asadiyah membawa anaknya yang masih kecil dan belum makan makanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu Rasulullah mendudukkan anak itu di pangkuannya. Kemudian anak itu kencing di baju beliau. Maka Rasulullah meminta air dan mengguyurkannya ke bajunya (hingga air menggenangi bekas kencing tersebut) dan tidak mencucinya. (Dalam lafaz lain: lalu beliau menuangkan air ke atas bekas kencing tersebut).


Walaupun najis tersebut ringan, namun masih tetap harus dibersihkan dengan mengguyurkan air padanya sesuai dengan apa yang bisa kita lihat pada hadits di atas.


Adapun dalam masalah kotoran dan kencing hewan, kita akan mendapatkan adanya perselisihan di kalangan ulama. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa kotoran hewan – baik yang dimakan dagingnya maupun tidak – adalah najis, sebagaimana pendapat jumhur ulama dan Syafi’i. Sebagian yang lain berpendapat, yang najis hanya kotoran hewan yang tidak dimakan dagingnya. Sementara pendapat yang lain dari kalangan ulama dan – wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab – ini adalah pendapat yang kuat, pada asalnya semua kotoran hewan suci, kecuali ada nash yang mengatakan najis, maka barulah dikatakan najis. Ini merupakan pendapat Ibnul Mundzir, dan dinukilkan oleh Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab bahwa ini adalah perkataan Dawud azh-Zhahiri, Ibrahim an-Nakha’i dan asy-Sya’bi. Pendapat ini juga didukung oleh al-Imam Asy-Syaukani di dalam kitab-kitab beliau, diantaranya Nailul Authar dan ad-Daraari.

Dengan apa yang telah diterangkan di atas, maka jelaslah bahwa tidak semua yang kotor pada wujudnya itu najis, kecuali ada nash yang menerangkan kenajisannya. Misalnya tahi cicak, tidak ada nash yang menunjukkan kenajisannya, maka itu bukan najis. Namun bila dikatakan kotoran (sesuatu yang kotor) maka tahi cicak itu memang termasuk kotoran.


Hal lain yang berkaitan dengan masalah ini adalah kencing unta. Sebagaimana kita ketahui, kencing unta adalah kotoran, namun bukan najis. Bahkan didapati riwayat dari Anas bin Malik radliyallahu‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memerintahkan untuk minum air kencing unta, sebagaimana termaktub dalam Shahihain (Shahih Bukhari no. 233) dan Shahih Muslim no. 1671) dan lainnya (yang artinya): Sekelompok orang dari Bani ‘Akl – atau Bani ‘Urainah – datang menemui Nabi namun mereka merasa tidak betah tinggal di Madinah karena sakit yang menimpa mereka maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar didatangkan seekor unta betina yang banyak susunya dan menyuruh mereka minum air kencing dan susunya. Lalu mereka beranjak melakukannya. Ketika telah sehat, mereka membunuh penggembala ternak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan meminum susu ternak itu. Datanglah berita tentang peristiwa itu menjelang siang sehingga Rasulullah memerintahkan untuk mengikuti jejak mereka. Pada siang harinya mereka didatangkan ke hadapan Nabi, lalu beliau memerintahkan agar dipotong tangan dan kaki mereka, dicungkil matanya, dan dilemparkan ke tengah padang pasir yang panas. Mereka meminta-minta minum, namun tidak diberi minum.


2. Madzi

Madzi adalah cairan yang hampir mirip dengan mani. Bedanya, madzi lebih tipis (encer) dan tidak pekat. Keluarnya madzi ini tidak terasa dan keluar ketika seseorang bersyahwat sebelum dia bercampur dengan istrinya (jima’) atau di luar jima’.


Kaum muslimin bersepakat bahwa madzi itu najis, sebagaimana dinukilkan Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’. Juga datang dalil yang menunjukkan najisnya madzi dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari (hadits no. 269) dan Imam Muslim (hadits no. 303) rahimahumallah dari hadits ‘Ali radliyallahu ‘anhu ketika ‘Ali menyuruh seorang shahabi, Miqdad ibnul Aswad, untuk menanyakan tentang madzi ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Beliau menjawab (yang artinya): Hendaknya dia mencuci kemaluannya dan berwudhu.


Ibnu Daqiqil ‘Id rahimahullah mengatakan dalam Ihkamul Ihkam: “Dari hadits ini diambil dalil tentang najisnya madzi, di mana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memerintahkan untuk mencuci kemaluan yang terkena madzi tersebut.”

Satu hal yang perlu kita ketahui, madzi ini menimpa laki-laki maupun wanita, namun lebih sering dan kebanyakan terjadi pada wanita seperti yang dikatakan Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarah Muslim.




3. Wadzi

Wadzi adalah cairan yang keluar setelah kencing atau saat mengejan setelah buang air besar. Hukum wadzi sama dengan madzi atau kencing, yaitu najis. Bahkan Imam an-Nawawi rahimahullahu ta’ala di dalam kitab beliau al-Majmu menukilkan ijma’ (kesepakatan) bahwa wadzi itu najis. Beliau mengatakan, “Telah bersepakat umat ini tentang najisnya madzi dan wadzi.”


4. Darah Haid dan Nifas

Darah haid dan nifas adalah dua hal yang secara umum dijumpai oleh kaum wanita. Namun mungkin ada di kalangan mereka yang belum mengetahui, apakah darah haid dan nifas termasuk najis atau bukan, sementara ini adalah perkara yang sangat penting bagi mereka.


Telah datang dalil yang menunjukkan kenajisan darah haid dalam hadits Asma’ bintu Abi Bakr radliyallahu ‘anha. Beliau menceritakan (yang artinya): Seorang wanita bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia berkata, "Ya Rasulullah, jika salah seorang dari kami terkena darah haid pada pakaiannya, apa yang harus ia lakukan?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “Apabila darah haid mengenai pakaian salah seorang dari kalian, hendaknya dia mengeriknya lalu membasuhnya, kemudian ia shalat memakai pakaian tersebut.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari no. 330, 331 dan Muslim no.110 )


Berkata Imam As Shan`ani rahimahullah di dalam Subulus Salam setelah membawakan hadits di atas: "Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan najisnya darah haid".


Kaum muslimin sendiri telah bersepakat bahwa darah haid itu najis dengan nash yang ada ini dan Imam an-Nawawi menukilkan adanya ijma` dalam hal ini. Adapun darah nifas, hukumnya sama dengan darah haid.


5. Bangkai

Begitu pula halnya dengan bangkai, ulama sepakat tentang kenajisannya sebagaimana dinyatakan oleh Imam Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid, juga Imam Nawawi dalam Al Majmu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (yang artinya): Apabila kulit telah disamak maka itu merupakan pensuciannya. (HR. Muslim no. 105)

Dari hadits di atas dipahami bahwa kulit hewan yang telah mati (bangkai) itu najis sehingga bila ingin disucikan harus disamak terlebih dahulu. Apabila kulitnya saja dihukumi najis maka tentunya bangkainya lebih utama lagi untuk dihukumi akan kenajisannya.

Dikecualikan dari bangkai ini adalah :

(1) Bangkai manusia dengan keumumam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam (yang artinya): Sesungguhnya mukmin itu tidak najis. (HR. Bukhari no. 283 dan Muslim no. 371)

(2) Bangkai hewan laut dengan dalil firman Allah ta’ala (yang artinya): Dihalalkan bagi kalian binatang buruan dari laut dan makanan dari hasil laut… (Al Maidah : 96)

Imam Thabari menukilkan dari Ibnu Abbas rahimahumullah tafsir dari ayat di atas, yakni yang dimaksud dengan صَيْدُهُ adalah binatang laut itu diambil dalam keadaan hidup dan طَعَامُهُ adalah binatang itu diambil dalam keadaan mati (telah menjadi bangkai).

Dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (yang artinya): Laut itu suci airnya dan halal bangkainya. (Hadits shahih diriwayatkan Ashabus Sunan dan dishahihkan Syaikh Albani dalam kitab beliau Ash Shahihah 1/480)


(3) Setiap hewan yang tidak memiliki darah yakni darahnya tidak mengalir ketika hewan itu dibunuh atau terluka seperti lalat, belalang, kalajengking dan lainnya. Berdalil dengan hadits (yang artinya): Apabila jatuh lalat dalam bejana salah seorang dari kalian maka hendaklah ia mencelupkan lalat tadi ke dalam air kemudian dibuangnya. (HR. Bukhari no. 3320)

Imam Ash Shan`ani rahimahullah berkata: "Dimaklumi bahwa lalat akan mati apabila jatuh ke dalam air ataupun makanan terlebih lagi apabila makanannya dalam keadaan panas. Maka sendainya lalat itu menajisi makanan tersebut niscaya makanan tersebut rusak sedangkan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam memerintahkan untuk memperbaiki makanan yang ada, tidak merusakkannya". (Subulus Salam)


Ketiga point di atas sebenarnya ada perselisihan pendapat tentang kenajisannya, namun pendapat yang kuat dengan dalil yang ada, ketiganya bukanlah najis, wallahu ta`ala a`lam bishawwab.

Sudah semestinya setiap muslim mengetahui perkara-perkara penting dalam agamanya khususnya dalam pembahasan kita tentang najasat agar tidak terjatuh dalam kekeliruan dan kesalahan yang dapat merusakkan ibadahnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Wallahul muwaffiq lima yuriduhu ilashawab.

Sumber: www.asysyariah.com

dicopy paste topwong from abizecha.multipy

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات





TUNJUKAN IMAGE KAMU